Tempe di Persimpangan Tradisi dan Inovasi Global
Tempe telah lama menjadi sumber protein nabati terpopuler di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, makanan fermentasi berbahan kedelai ini mengalami transformasi luar biasa yang membawanya dari meja makan rumah tangga ke panggung pangan internasional. Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mengonsumsi sekitar 7,3 kilogram tempe per orang setiap tahunnya, dan produksi tempe saja menopang sekitar 112.000 usaha mikro, kecil, dan menengah yang mempekerjakan sekitar 240.000 orang di seluruh negeri.
Inovasi Starter Adaptif untuk Ketahanan Iklim
Peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) telah memperkenalkan starter tempe adaptif yang dirancang untuk menjaga stabilitas produksi dan kualitas rasa di tengah tantangan perubahan iklim. Inovasi ini bukan hanya terobosan teknologi, tetapi juga pelindung warisan budaya. “Kami ingin memastikan tempe, sebagai warisan kuliner Indonesia, dapat terus diproduksi dengan kualitas tertinggi tanpa terganggu oleh perubahan iklim,” ujar Wellyzar Sjamsuridzal, ahli sistematika mikroba FMIPA UI.
Starter adaptif ini dikembangkan menggunakan strain jamur Rhizopus dari University of Indonesia Culture Collection (UICC), salah satu repositori jamur tempe paling komprehensif di Indonesia. Dengan menggabungkan strain terpilih, starter ini dapat bertahan terhadap fluktuasi iklim sambil menghasilkan tempe dengan aroma khas, miselium putih tebal, dan tekstur padat.
Ekspansi ke Pasar Amerika Serikat
Tempe mulai mendapat perhatian serius di pasar makanan dan minuman Amerika Serikat. Produk fermentasi kedelai tradisional Indonesia ini menjadi salah satu produk yang dipilih untuk ditampilkan dalam pameran Summer Fancy Food Show 2026 di Amerika Serikat, yang diikuti sekitar 2.529 peserta dari 57 negara dan dihadiri sekitar 14 ribu pelaku bisnis internasional.
Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor produk pangan Indonesia ke Amerika Serikat mencapai 5,97 miliar dolar AS pada 2025, memperlihatkan besarnya peluang pasar makanan Indonesia di luar negeri. Tempe memiliki keunggulan karena sudah dikenal sebagai makanan fermentasi, dan karakter tersebut dapat menjadi bagian dari cerita produk ketika diperkenalkan kepada konsumen internasional.
Tempe sebagai Identitas Wisata Kuliner
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menilai tempe berpotensi menjadi salah satu identitas wisata kuliner Indonesia sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan menu di hotel dan restoran. Ketua Umum PHRI, Hariyadi BS Sukamdani, menyatakan bahwa tempe memiliki sejarah, pengetahuan tradisional, proses fermentasi khas Indonesia, dan kearifan lokal yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan jenama kuliner nasional.
Tempe kini tidak hanya disajikan sebagai lauk atau makanan pendamping, tetapi mulai diolah menjadi beragam menu bernilai tambah seperti burger tempe, steak tempe, tempe Wellington, tempe katsu sando, dan tempe carpaccio. “Tempe dulu dianggap makanan yang tidak premium. Sekarang sudah naik peringkatnya, hotel-hotel dan restoran dengan bangga juga menyajikan tempe,” ujar Hariyadi.
Inovasi Tempe Almond sebagai Produk Premium
Di sisi lain, inovasi produk turunan tempe terus bermunculan. Tempe almond, yang sering disebut “tempe sultan,” menjadi salah satu varian premium yang sedang populer. Berbeda dengan tempe kedelai biasa, tempe almond mengganti bahan dasar dengan kacang almond dan dapat dikonsumsi mentah tanpa pengolahan lebih lanjut. Proses fermentasinya sekitar 1 sampai 2 hari, sampai jamur putih sempurna terbentuk.