Cara masyarakat Indonesia menikmati hiburan telah mengalami transformasi fundamental. Televisi linear yang dulu menjadi pusat tontonan keluarga kini bergeser ke perangkat digital yang personal. Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet Indonesia 2026 yang dirilis Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkap lanskap baru konsumsi media digital yang kian dinamis.
YouTube Masih Tak Terbantahkan
Dari 235,26 juta pengguna internet Indonesia—setara 81,72 persen dari total populasi—YouTube memimpin sebagai platform video yang paling sering ditonton dengan persentase 49,3 persen. Hampir separuh pengguna internet domestik memilih YouTube sebagai platform utama untuk mengakses konten video. Survei ini melibatkan 8.700 responden berusia minimal 13 tahun yang tersebar proporsional di 38 provinsi, dengan margin of error ±1,1 persen.
Vidio di Posisi Kedua, Netflix Ketiga
Di bawah YouTube, Vidio menempati posisi kedua dengan 24,8 persen. Platform ini diminati berkat kelengkapan kontennya—mulai dari siaran olahraga, film, serial, hingga program televisi. Netflix menyusul di posisi ketiga dengan 13,4 persen, sementara Prime Video dan Disney+ Hotstar masing-masing hanya mengantongi 0,6 persen.
Smart TV: Perangkat Baru yang Semakin Digemari
Perubahan gaya menonton turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan. Meski ponsel masih menjadi perangkat utama, tren menonton melalui Connected TV atau Smart TV terus meningkat. Ini menandakan bahwa streaming tidak lagi sekadar aktivitas mobile—ia telah menjadi pengalaman menonton ruang keluarga yang setara dengan televisi konvensional, namun dengan kebebasan memilih konten dan waktu tayang.
Konsumen Memegang Kendali Penuh
Dalam platform digital berbayar, konsumen memiliki kendali penuh untuk menikmati pilihan hiburan. Sebagaimana diungkapkan Fitria Devina, pekerja swasta di Jakarta yang berlangganan Netflix dan Spotify sejak pandemi: “Kalau Netflix memang paling sering aku pakai, terutama saat di rumah, setelah selesai kerja atau saat libur”. Baginya, keberagaman film dari berbagai negara dan genre memungkinkannya menentukan sendiri hiburan tanpa terikat jadwal tayang.
Fragmentasi Waktu Menjadi Medan Persaingan
Keterbatasan waktu luang justru menjadi medan persaingan baru industri hiburan. Platform digital tidak hanya berlomba menghadirkan konten, tetapi juga berebut agar konsumen memberikan sebagian waktunya. Fenomena ini menjelaskan mengapa personalisasi algoritma dan rekomendasi konten menjadi semakin krusial dalam strategi platform streaming.
Tren ini diperkuat oleh munculnya format micro-drama yang dirancang untuk konsumsi cepat di sela-sela aktivitas harian. Indonesia telah menjadi pasar terbesar di Asia-Pasifik untuk konsumsi micro-drama, menyumbang 39 persen dari total audiens regional. Dengan demikian, streaming digital bukan sekadar perubahan teknologi—ia telah mengubah cara fundamental masyarakat Indonesia memaknai waktu luang dan hiburan.