“Nadi di Tondi” dan Kolaborasi Pendopo x Julia Orlandy yang Membawa Ulos ke Keseharian

“Nadi di Tondi” dan Kolaborasi Pendopo x Julia Orlandy yang Membawa Ulos ke Keseharian

Koleksi Perdana yang Lahir dari Filosofi Tondi

Di tengah hiruk-pikuk Indonesia Fashion Week 2026, Pendopo bersama desainer Julia Orlandy memperkenalkan koleksi bertajuk “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”. Ditampilkan dalam show Prismatic pada Kamis, 30 Juli 2026, koleksi ini terdiri dari sembilan look yang mengangkat ulos Batak sebagai material utama. Judulnya merujuk pada konsep tondi dalam kosmologi Batak—jiwa, roh, dan kekuatan batin yang menyertai kehidupan manusia—sehingga busana tidak berhenti sebagai objek, tetapi menjadi medium yang menghidupkan tradisi.

Tailoring Modern dan Palet Kontras

Pendekatan desain yang diambil berbeda dari arketipe ulos seremonial. Kesembilan koleksi menggunakan palet khas ulos yang dipadukan dengan kain hitam polos, menghasilkan kontras elegan. Material semi-wool dan konstruksi tailoring mempertegas karakter modern, sementara detail asimetris dan aksen turtleneck memberikan sentuhan kontemporer yang mudah dikenakan dalam berbagai kesempatan. Dengan kata lain, ulos tidak lagi hanya hadir di acara adat, tetapi masuk ke lemari pakaian sehari-hari.

Mangulosi sebagai Bahasa Desain

Julia Orlandy menerjemahkan tradisi Mangulosi—prosesi penyematan ulos sebagai simbol restu, kasih sayang, perlindungan, dan penghormatan—ke dalam siluet formal yang elegan. Setiap look lahir dari rasa hormat terhadap tradisi, namun diolah dengan bahasa desain yang lebih kontemporer agar dapat dikenakan dalam berbagai momen kehidupan masa kini. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bersifat museal; ia dapat hidup melalui pakaian yang dipakai setiap hari.

Dampak bagi Perajin Lokal

Yang tak kalah penting, seluruh ulos dalam koleksi ini ditenun oleh perajin lokal. Pendopo memastikan bahwa kolaborasi ini tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang keberlanjutan ekosistem wastra dan pemberdayaan pengrajin. Dalam konteks industri mode yang sering kali terputus dari rantai produksi tradisional, langkah ini menjadi contoh bagaimana desain kontemporer dapat berdampingan dengan produksi etis.

Relevansi bagi Generasi Muda

Julia menilai bahwa fashion bukan sekadar busana, melainkan medium untuk membawa cerita budaya agar terus hidup dan menjangkau generasi baru. “Nadi di Tondi” pun menjadi bukti bahwa ulos memiliki ruang untuk berevolusi tanpa kehilangan nilai filosofisnya. Liputan lengkap mengenai kolaborasi ini dapat dibaca di Kompas.com, yang mengulas detail koleksi dan proses kreatif di baliknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *