Pasar Triwindu Solo: Ketika Kebaya Lawas Jadi Buruan Fashionista Muda

Pasar Triwindu Solo: Ketika Kebaya Lawas Jadi Buruan Fashionista Muda

Revitalisasi Busana Tradisional dari Lorong Antik

Di Pasar Triwindu Solo, deretan gramofon dan mesin tik tua berdiri berdampingan dengan puluhan kebaya, baju encim, dan kutubaru lawas yang tergantung rapi di kios Mbak Nunuk. Risa (32), penjaga kios, menuturkan bahwa tren berbusana tradisional yang kembali berkembang membuat kiosnya ramai dikunjungi pembeli, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Yang paling dicari bukan koleksi baru, melainkan busana hasil thrift. “Yang dicari anak muda sekarang kebanyakan yang thrift, karena koleksi lama. Padahal harganya malah bisa lebih mahal daripada yang baru,” ujarnya kepada Tribunnews, Juli 2026.

Kualitas Bahan dan Narasi “Mewah” Alternatif

Kualitas bahan menjadi alasan utama. Katun pada busana lawas dinilai lebih adem dan tahan lama, menawarkan sensasi yang sulit direplikasi produksi massal masa kini. Harga kebaya di Pasar Triwindu dibanderol mulai Rp40 ribuan hingga Rp160 ribuan, tergantung model, bahan, dan kondisi. Bagi generasi muda, busana ini bukan sekadar pakaian; ia adalah pernyataan gaya yang menolak homogenitas fast fashion, sekaligus bentuk apresiasi terhadap kerajinan tangan yang tak diproduksi lagi.

Pasar Tradisional sebagai Kanal Premium

Fenomena ini menunjukkan bahwa “mewah” tidak selalu identik dengan label internasional. APPMI menyebut bahwa di pasar lokal, karya desainer dengan detail signature atau bahan yang terlihat mewah sangat diminati untuk momen foto keluarga atau open house. Dengan kata lain, nilai premium bergeser dari logo ke bahan, teknik pembuatan, dan keunikan. Pasar tradisional seperti Triwindu menjadi kurator tidak resmi bagi estetika yang autentik dan sulit ditemukan di mal.

Tantangan dan Peluang

Meski antusiasme meningkat, pedagang batik dan busana tradisional di beberapa daerah melaporkan penurunan penjualan hingga hampir 90% dibandingkan kondisi sebelumnya. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa revitalisasi tidak merata. Di sisi lain, platform digital membuka peluang baru. Batik Madura, misalnya, mulai menyapa pasar yang lebih luas melalui kanal online, memperluas jangkauan dari pasar tradisional Ki Lemah Duwur ke konsumen luar daerah.

Dari Pasar ke Narasi Gaya Hidup

Kehadiran Modest Luxe di Sarinah—department store pertama Indonesia yang bertransformasi menjadi cultural experience center—menegaskan bahwa ruang premium dan ruang budaya bisa bertemu. Pasar lokal dan butik mewah bukan dua dunia terpisah; keduanya merespons kebutuhan yang sama: keaslian, kualitas, dan cerita. Konsumen muda yang berburu kebaya lawas di Triwindu dan mereka yang mengantre di butik Plaza Indonesia sama-sama mencari barang yang “berbicara.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *