Edukasi Gastronomi dari Cirebon
Sorgum, tanaman serealia yang selama puluhan tahun terpinggirkan dari pola konsumsi nasional, kini menemukan momentum baru. Pada 26 Juli 2026, komunitas Sedulur Koki Cirebon (Sekoci) menggelar Diskusi Gastronomi bertema “Mengangkat Potensi Sorgum & Kuliner Cirebon.” Kegiatan ini bukan sekadar seminar, melainkan ruang kolaborasi antara pemerintah, praktisi kuliner, akademisi, dan petani untuk memperkenalkan sorgum sebagai alternatif pangan yang bernilai ekonomi.
Inovasi Produk yang Sudah Berjalan
Sekoci tidak berhenti pada wacana. Bersama para praktisi, mereka telah mengembangkan mi sehat berbahan sorgum, pengganti nasi, hingga gula sorgum. Tantangan terbesar, menurut Ketua Umum Sekoci Rieza Aditya Permana, bukanlah aspek teknis pengolahan, melainkan mengubah kebiasaan masyarakat yang sangat bergantung pada nasi. Namun, sinyal pasar mulai terlihat. Di Mataram, permintaan produk sorgum olahan dari restoran, toko bahan kue, dan resto vegan terus meningkat. Dalam seminggu, produsen lokal bisa menerima pesanan puluhan kilogram, sementara beberapa restoran sehat di Pekanbaru memesan hingga ratusan kilogram.
Keunggulan Agronomis dan Ekologis
Dari sisi budidaya, sorgum memiliki keunggulan yang relevan dengan krisis iklim. Tanaman ini toleran terhadap kekeringan, dapat tumbuh di lahan marginal, dan membutuhkan input pupuk kimia yang lebih rendah dibandingkan gandum. Dalam konteks gastronomi modern, karakter sorgum yang earthy dan bertekstur kasar justru menjadi daya tarik bagi chef yang ingin mengeksplorasi rasa di luar arketipe gandum. Beberapa restoran fine dining mulai menjadikan sorgum dan jali-jali sebagai bintang utama menu, bukan sekadar pelengkap.
Hambatan Rantai Pasok dan Standardisasi
Kendati prospeknya cerah, sorgum masih menghadapi persoalan klasik pangan lokal: fluktuasi pasokan dan belum adanya standar mutu yang seragam. Restoran yang ingin konsisten menggunakan sorgum membutuhkan pasokan dengan kadar air, ukuran butir, dan tingkat kebersihan tertentu. Di sinilah peran kelompok tani dan pendampingan dinas pertanian menjadi krusial. Sekoci, misalnya, menggandeng Poktan Siliwangi untuk edukasi budidaya, sementara aspek pengolahan dan turunan produk menjadi ranah para koki.
Proyeksi Pasar dan Arah ke Depan
Dengan konsumsi beras nasional yang masih mencapai 87,3 kg per kapita per tahun, ruang subtitusi sorgum memang sangat besar namun tidak mudah direbut. Strategi yang paling realistis bukan menggantikan nasi secara total, melainkan memposisikan sorgum sebagai alternatif premium di segmen restoran sehat, vegan, dan fine dining. Jika edukasi berjalan konsisten dan rantai pasok diperkuat, sorgum berpotensi menjadi komoditas yang tidak hanya mengisi ceruk pasar, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan dari akar rumput.