Ketika Pangan Lokal Kembali Menjadi Tren: Perlawanan Baru Melawan Ultra-Processed Food

Ketika Pangan Lokal Kembali Menjadi Tren: Perlawanan Baru Melawan Ultra-Processed Food

Polo Pendem dan Kebangkitan Pangan Lokal

Di pasar-pasar tradisional Surabaya, sebuah fenomena menarik mulai terlihat sepanjang awal 2026. Singkong, ubi, talas, jagung, dan kentang lokal—yang akrab disebut polo pendem—kembali diminati. Bukan oleh generasi tua, melainkan oleh anak-anak muda yang mulai sadar akan pentingnya pola makan sehat. Makanan tradisional berbahan dasar umbi-umbian ini kembali menjadi pilihan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

Tren ini bukan kebetulan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dirilis ulang dalam kampanye 2026 menunjukkan bahwa 96,7 persen penduduk usia 5 tahun ke atas kurang mengonsumsi buah dan sayur. Sebanyak 33,7 persen gemar makanan manis dan 47,5 persen gemar minuman manis. Angka obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas melonjak dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 23,4 persen pada 2023.

Bahaya Ultra-Processed Food yang Mengintai

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam peluncuran gerakan “Makan Dengan Makna” di Jakarta pada 9 Juli 2026, menyampaikan peringatan keras. “Banyak orang merasa dirinya sehat hari ini, padahal lima atau sepuluh tahun lagi berisiko terkena stroke atau serangan jantung akibat pola makan yang buruk,” ujarnya.

Penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, kanker, dan gangguan ginjal menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dan sangat dipengaruhi oleh akumulasi pola makan yang buruk. Ultra-processed food (UPF)—kategori makanan yang melalui proses industri ekstensif dan mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, dan perisa buatan—menjadi salah satu pemicu utama. Contohnya meliputi sosis, nugget, kornet, mie instan, minuman bersoda, dan camilan kemasan.

Gerakan “Makan Dengan Makna” dan Peran Media Sosial

Kementerian Kesehatan menggandeng TikTok Indonesia dan Foodbank of Indonesia (FOI) untuk mengampanyekan pola makan sehat berbasis pangan lokal. Menkes Budi secara khusus meminta para kreator konten untuk mengemas edukasi kesehatan dengan gaya anak muda. “Buatlah pola makan sehat ini menjadi tren. Edukasikan bahwa minum kopi hitam tanpa gula itu keren, dan makan rebus-rebusan atau salad itu gaya hidup yang trendi,” pintanya.

Pendekatan ini masuk akal. TikTok menjadi platform di mana konten makanan—termasuk makanan sehat—merupakan salah satu yang paling banyak ditemukan dan dibagikan. Dengan menggandeng influencer dan kreator, pesan tentang bahaya UPF dan pentingnya pangan lokal dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama Generasi Z dan Alpha.

Kuliner Kampung sebagai Solusi Berbasis Akar Rumput

Tren kembali ke kuliner kampung menawarkan perspektif yang menarik. Makanan yang dimasak dengan cara direbus, dikukus, atau dibakar—seperti yang lazim dalam tradisi kuliner kampung—jauh lebih ramah tubuh dibandingkan makanan yang digoreng atau diproses secara industrial.

Tradisi seperti “makan bajamba” di Minangkabau mengajarkan nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap makanan alami. Di era digital, prinsip-prinsip kuliner kampung dapat menjadi inspirasi untuk pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Batas Konsumsi Gula, Garam, Lemak yang Perlu Diketahui

Kementerian Kesehatan menetapkan batas harian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) maksimal adalah 4 sendok makan gula, 1 sendok teh garam, dan 5 sendok makan lemak per hari. Angka ini menjadi acuan penting bagi masyarakat yang ingin menjaga kesehatan melalui pola makan.

Namun, tantangan terbesar bukan pada pengetahuan, melainkan pada lingkungan pangan yang didesain untuk mendorong konsumsi berlebih. Di sinilah kebijakan Nutri-Level berperan: memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami agar konsumen dapat membuat pilihan yang lebih sadar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *