NGS dan Revolusi Diagnostik Kanker: Ketika Terapi Tepat Sasaran Menjadi Kenyataan

NGS dan Revolusi Diagnostik Kanker: Ketika Terapi Tepat Sasaran Menjadi Kenyataan

408 Ribu Kasus Baru: Beban Kanker yang Menuntut Pendekatan Baru

Setiap tahun, lebih dari 408 ribu kasus baru kanker muncul di Indonesia, dengan kanker payudara dan kanker paru menduduki peringkat tertinggi. Angka ini mencerminkan tantangan yang jauh lebih kompleks dari sekadar jumlah pasien—setiap tumor memiliki karakteristik biologis yang unik. Pendekatan “satu terapi untuk semua” tidak lagi memadai.

Kesadaran inilah yang mendorong kolaborasi strategis antara AstraZeneca Indonesia dan Rumah Sakit Kanker Dharmais melalui implementasi teknologi Next-Generation Sequencing (NGS). Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, menegaskan bahwa kolaborasi ini bukan hanya tentang terapi inovatif, tetapi juga penguatan ekosistem diagnostik yang memungkinkan pasien memperoleh terapi tepat sesuai karakteristik penyakitnya.

NGS: Membaca 45 Mutasi Gen dalam Satu Pemeriksaan

Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. Eniarti, menjelaskan bahwa teknologi NGS memungkinkan pemetaan biomarker genomik secara komprehensif dari sampel jaringan maupun darah. “Dengan informasi molekuler yang lebih lengkap, dokter dapat memahami karakteristik penyakit pasien secara lebih mendalam,” ujar dr. Eka Widya Khorinal, dokter spesialis hematologi-onkologi medik RS Kanker Dharmais.

Teknologi ini memungkinkan identifikasi hingga 45 jenis mutasi gen pada kanker payudara dan kanker paru, serta 23 jenis mutasi gen pada Leukemia Limfositik Kronis (CLL). Dalam satu kali pemeriksaan, dokter dapat memperoleh gambaran menyeluruh tentang perubahan genetik yang berkaitan dengan kanker.

Kanker Payudara dan Paru: Prioritas Utama

Implementasi NGS di RS Kanker Dharmais mencakup pemeriksaan pada kanker payudara HR+/HER2-, kanker paru jenis non-small cell lung cancer (NSCLC) adenokarsinoma, serta CLL. Pada kanker paru, tantangan penanganan semakin kompleks karena diagnosis kerap dilakukan pada stadium lanjut dan masih terbatasnya informasi molekuler yang dibutuhkan untuk mendukung keputusan terapi optimal.

Dr. dr. Arif Riswahyudi Hanafi, dokter spesialis paru konsultan onkologi toraks, menekankan pentingnya informasi biomarker dalam menentukan penanganan pasien kanker paru. “Pemeriksaan molekuler yang komprehensif seperti NGS membantu dokter memahami karakteristik biologis penyakit secara lebih spesifik,” katanya.

Kanker Payudara Bukan Penyakit Seragam

Dr. Abdul Muhaimin Husein, dokter spesialis bedah onkologi RS Kanker Dharmais, menyoroti bahwa kanker payudara bukan penyakit yang seragam. Pasien dengan diagnosis yang sama dapat memiliki karakteristik biologis dan respons terapi yang berbeda. Pemeriksaan molekuler yang lebih komprehensif memungkinkan identifikasi berbagai perubahan gen secara simultan, sehingga keputusan klinis dapat dibuat lebih terinformasi.

Perluasan Akses: Menuju Pemerataan Layanan

Tantangan berikutnya adalah pemerataan akses. Handoko dari kolaborasi Indonesia-Tiongkok mengakui bahwa fasilitas seperti NGS dan pemeriksaan molekuler lainnya belum tersedia secara merata di seluruh rumah sakit. Kolaborasi internasional dalam Indonesia-China Cancer Forum (ICCF) 2026 menjadi ruang pertukaran pengetahuan untuk mengatasi kesenjangan ini.

Di sisi lain, kolaborasi Diastika Biotekindo (CHEK) dengan KALGen Innolab pada Oktober 2026 bertujuan mempercepat layanan precision medicine melalui layanan Comprehensive Genomic Profiling (CGP) berbasis NGS. Direktur KALGen Innolab, Henry Sukardi, menjelaskan bahwa ketersediaan layanan CGP membantu dokter memahami karakteristik kanker untuk menentukan terapi yang personal bagi pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *